Efektivitas-efisiensi & Teknik Industri

July 25th, 2007 by budih

Efektivitas, Efisiensi dan Teknik Industri

Waktu saya membaca judul skripsi mahasiswa TI, kadang kening saya berkerut [bingung atau nggak faham nih ya  he he ?]

Contohnya kira-kira adalah:

-         Aplikasi six sigma di perusahaan ***  untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas

-         Overall Equipment Effectiveness sebagai indikator peningkatan efektifitas dan efisiensi mesin di perusahaan %%%

-         Pemodelan dan Simulasi Sistem Dinamik di Rantai Pasok untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

Sounds familiar?

So, adakah masalah dengan judul-judul tersebut?

Nggak juga, everything is oke, so far so good

Tetapi …

Istilah “efektivitas dan efisiensi” atau ada juga yang menerjemahkannya sebagai “sangkil dan mangkus” sepertinya sering kehilangan makna. Seringnya istilah-istilah tersebut hanya menjadi ‘bumbu’ atau ‘jargon’ atau ‘retorika’ tanpa makna. Agar kelihatan canggih, ilmiah, keren, bombastis, dipakailah istilah tersebut. Sekadar retorika.

Berkali-kali saya menemukan sendiri kasus (terutama saat sidang sarjana), mahasiswa menggunakan kedua istilah itu tanpa benar-benar memahaminya.

Padahal …

Sebagai seorang insinyur, kita dituntut untuk selalu berpikir akurat dan bertanggung jawab. Coba kita bayangkan ilustrasi berikut:

Anda sudah lulus dan menjadi pimpinan proyek. Di kontrak proyek anda, dituliskan bahwa tujuan proyek adalah:

“membangun sebuah pabrik Ammonia berkapasitas ### MMBtu yang dapat beroperasi dengan efektif dan efisien”

Anda terima dengan senang hati. Toh skripsi saya dulu juga pakai istilah tersebut. Toh saya lulus juga. Jika project objective anda seperti itu dan anda menerimanya dengan senang hati, sudah hampir dipastikan riwayat profesi anda sebagai young project manager sudah selesai, wassalam.

Mengapa?

Karena tujuan proyek anda sangat tidak jelas dan multi-interpretasi. Akan sangat mudah bagi klien anda, atau project sponsor anda untuk melakukan pemuluran cakupan proyek (scope creeping). Istilah “efektif dan efisien” di kontrak anda itulah masalahnya. Istilah tersebut tidak pas untuk digunakan karena sangat kabur dan multi tafsir (jadi inget

kan

istilah SMART di project management).

Apakah itu berarti kita tidak boleh menggunakan istilah efektif dan efisien?

Tentu boleh, asalkan kita memahami dengan tepat dan menggunakannya dengan bertanggung jawab pula.

Efektivitas: do the right things, melakukan hal-hal yang tepat

Efisiensi: do things right, melakukan hal-hal dengan tepat

Jadi sebelum kita bicara efisiensi, kita harus yakin bahwa kita efektif.

Contoh

Ilustrasi fiktif berikut mudah-mudahan bisa menambah pemahaman kita.

Anda adalah komandan pasukan pengamanan presiden. Pagi buta anda mendapat SMS dari Sekretariat Negara: “harap siapkan pengamanan di Istana, pagi ini jam 11:00 Presiden akan mengadakan pertemuan dengan mahasiswa, 500 orang”. [Wuih, 500 orang… mahasiswa lagi pikir anda].

Mendapat berita tersebut, otomatis anda langsung bangun. Seusai protap, menyiapkan pasukan, briefing, sterilisasi, membangun perimeter di sekeliling Istana Negara Jakarta. Anda cek dan ricek, oke semua. Anda tidak ingin kecolongan. Semuanya telah dilakukan dengan tepat. Anda telah sangat efisien menjalankan tugas.

Pukul 8 pagi, anda dikontak kembali oleh SekNeg. Kali ini melalui telepon. “Saudara Danpaspampres, bagaimana anda ini kok tidak menjalankan tugas. Saya

kan

sudah minta pengamanan di Istana. Sampai jam segini, mana persiapannya?”

Anda jadi heran. Balas anda “lha bagaimana tho pak SekNeg, saya SUDAH menjalankan tugas. Pasukan sudah stand-by dari jam enam pagi. Protap protokoler sudah digelar”

Kedua pihak bingung, sampai kemudian istri pak Sekneg menyela “Pak, habis mendampingi Presiden wawancara dengan mahasiswa, nanti langsung antar saya ke MALIOBORO naik becak aja ya??”

Got the point??

Komandan tadi telah sangat efisien. Beliau telah menjalankan hal dengan sangat baik. Sayangnya ‘hal’ yang dia lakukan tidak tepat sasaran. Bukan sesuatu yang seharusnya dia lakukan. Beliau tidak efektif.

He has done things right, but unfortunately they are not the right things.

Karenanya, saya sangat cocok dengan jargon berikut ini:

“It is so useless to do something extremely well but not necessary”

Efektif, Efisien, dan Teknik Industri

So, bagaimana hubungannya dengan IE-ers?

Terkait dengan pekerjaannya, akhirnya IE-ers dituntut berpikir kritis sebelum melakukan sesuatu.

Saat bos anda menyuruh anda mengerjakan sesuatu. Anda harus berpikir sejenak untuk melihat, “benarkah ini solusi terbaik dari masalah itu?” – efektivitas. Baru setelah anda yakin bahwa ini solusinya, lakukan sebaik-baiknya – efisien.

Saat anda mendapat keluhan dari pelanggan, anda harus yakin terlebih dahulu bahwa apa yang dikeluhkan benar-benar merupakan akar masalah pelanggan tersebut? Perlu diingat bahwa kadang pelanggan memang punya masalah tetapi tidak bisa mengartikulasikan masalah tersebut dengan baik.

Anda harus yakin bahwa anda efektif sebelum akhirnya efisien.

Kuis

Akhirnya tulisan ini ditutup dengan kuis kecil. Saya ambil dan modifikasi kasus ini dari sebuah buku yang pernah saya baca.

Silahkan berpartisipasi dengan mengisi komentar di bawah. Semua data yang tidak ada tapi diperlukan (contoh: jumlah pengguna, waktu tunggu, waktu antar kedatangan, kapasitas lift, kecepatan lift, jumlah lift, demografi, temperatur lift, dsb) silahkan diasumsikan sendiri. Anda bisa menggunakan pendekatan IE yang manapun. Cukup sampaikan garis besar pemecahan masalahnya, tidak perlu detail.

Anda bekerja di sebuah perusahaan MNC besar, memiliki gedung sendiri yang berlantai 21. Lantai 1-13 disewakan, sementara lantai 14 ke atas digunakan sendiri. Gedung tersebut masih baru, lantai 1 adalah lantai lobi di mana petugas keamanan dan resepsionis berada.

Manajemen telah mendengar keluhan berkali-kali dari pelanggan (penyewa, karyawan, tamu) bahwa lift yang disediakan masih kurang. Pengguna harus menunggu lama untuk memanfaatkan lift, terutama saat jam masuk kantor. Di jam-jam lain termasuk jam pulang kantor, lift cukup nyaman digunakan.

Ada

usulan agar jumlah lift ditambah.

Anda sebagai IE, ditugasi oleh atasan anda untuk mengkaji masalah ini dan memberikan usulan solusi. Dengan menggunakan ilmu ke IE-an anda, berikan saran anda !!

(c) b oe d

Setelah bersama

July 20th, 2007 by budih

Sebelum bersama
Sebelum mengucap ikrar bersama
Biasanya kita berjanji
Biasanya kita meminta janji
"setelah nanti aku kan berubah"
"setelah nanti aku kan menjadi seperti yang kau inginkan"
"setelah nanti kau seyogyanya begini - semestinya begitu - ubah perangai ini- tambah sifat itu"

Saat telah berikrar - setelah bersama
Janji tertagih
Saat telah berikrar dua menjadi satu
Janji diburu

Menunggu perubahan itu


[ Manusia diciptakan dengan keunikannya
Maka berhentilah menghakimi, mulailah mencintai
Karena perbedaan itulah inti dari kebersamaan ]

Ikhlas …

(c) boed

Memberi

July 20th, 2007 by budih

Memberi …
Hmm… kadang kata ini menjadi pilihan terakhir tindakan kita
Karena …
Memberi adalah kehilangan, memberi adalah pengorbanan, memberi adalah …

Lihat di mana-mana orang sibuk meminta
Rumah dirobohkan supaya dapat meminta
Tandatangan di kontrak supaya dapat meminta
Mulut berbusa bicara supaya dapat meminta

Peluit di pinggir jalan supaya dapat meminta

Dan seterusnya supaya dapat meminta

….

Tapi tunggu…
Engkau tak kan hidup selamanya

Tidakkah ini yang lebih baik …
Memberi ???
Karena

Sejatinya
milikmu adalah apa yang kau berikan
bukan apa yang kau simpan

(c) boed

Peranan IE di industri konstruksi

July 19th, 2007 by budih

Salah seorang rekan praktisi menanyakan ke saya melaui email bagaimana kompetensi IE bisa berperan di industri konstruksi. Berikut adalah petikan jawaban saya:

Menurut pendapat saya memang ada perbedaan yang sangat mendasar dari sisi operasional bisnis dari perusahaan konstruksi (seperti Rekayasa atau Keppel) dengan perusahaan manufaktur (seperti Astra International). Perusahaan manufaktur biasanya menggunakan pendekatan operations management karena sifat operasinya yang terus-menerus, produksinya yang masal. Perusahaan konstruksi biasanya menggunakan pendekatan project management karena hidupnya dari satu proyek ke proyek yang lain. Produknya biasanya unik dan sifatnya tidak masal.

Akibatnya perusahaan yang berbasis proyek biasanya tidak bisa langsung memanfaatkan konsep-konsep yang digunakan di manufaktur, seperti Six Sigma, Statistical Process Control dan sejenisnya. Saat saya masih di industri (kebetulan saya dulu bekerja di EPC company), perusahaan kami pernah mencoba menerapkan six sigma pada proyek. Ternyata agak kesulitan karena six sigma biasanya digunakan untuk produksi masal (sehingga muncul konsep seperti DPMO). "Produk" perusahaan kami biasanya unik: satu pabrik X di tempat A, pabrik Y di tempat B, platform Z dst.

Mengenai penerapan ilmu TI di konstruksi akhirnya memang sangat
tergantung kondisi dari masing-masing perusahaan. Tapi salah satu inti tujuannya nanti adalah peningkatan produktivitas dan kualitas dari bisnis proses secara sistemik.

Yang terpikirkan oleh saya, karena perusahaan berbasis proyek, hidup mati tergantung proyek, maka salah satu fokus utama perusahaan adalah bagaimana melakukan delivery proyek secara efektif (do the right things) dan efisien (do things right).

Dalam hal ini, disiplin ilmu teknik industri dengan konsep sistemnya
bisa sangat berperan. Contoh konkretnya misalnya adalah mengembangkan:

a. sistem untuk membantu pengambilan keputusan tentang proyek-proyek apa saja yang harus "dikejar" dari sekian banyak pilihan, bagaimana strategi bidding-nya, bagaimana cara mengestimasi biayanya, bagaimana mengubungkan tingkat resiko dan kontrak.

b. sistem untuk megelola hubungan (HR, budget, time, material,
kontrak) antara satu proyek dengan proyek lain yang sedang dieksekusi bersamaan (manajemen portofolio)

c. sistem untuk "menyimpan pengalaman" dari proyek-proyek sebelumnya (knowledge management). Bagaimana kita bisa belajar dari pengalaman proyek sebelumnya? Seperti kita tahu turn-around di perusahaan konstruksi cukup tinggi. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana caranya agar "karyawan boleh keluar masuk perusahaan tetapi pengetahuan mereka bisa ditinggal di perusahaan".
[ Kebetulan saat ini saya sedang melakukan penelitian S3 di bidang (c) ini di National University of Singapore ].

Dan seterusnya, termasuk memodifikasi konsep kualitas di manufaktur agar bisa diterapkan di proyek, menerapkan konsep SCM untuk vendor-vendor kita, dsb.

Akhirnya hal apa yang akan dilakukan oleh departemen TI sangat tergantung pada prioritas kebutuhan di perusahaan tersebut.

(c) boed

Kompetensi Inti dari Teknik Industri

June 26th, 2007 by budih

Teknik Industri (Industrial Engineering, IE)

Seorang adik mahasiswa S1 (IE-er) pernah menanyakan ke saya, sebenarnya apa sih kompetensi yang harus dimiliki seorang IE?
Trus kalo udah lulus kerjanya di mana aja?

Hai, IE-ers; jangan-jangan anda juga punya pertanyaan serupa ya. Kalau IE-ers yang masih semester satu atau dua - saya bilang masih wajar kalau agak-agak binun. Buat yang sudah sophomore ataupun senior - dan masih binun … gawat :)

Jangan-jangan ada mhsw senior [atau alumni ?] yg masih gak bisa mbedain IE dg Manajemen ya? atau IE dengan ilmu Keteknikan yang lain? ada juga yang bilang IE itu ‘ilmunya nanggung’.

Oke .. oke … coba kita lihat bagaimana pendapat saya.
[dan seperti biasa anda tentu boleh sepakat untuk tidak sepakat].

# Apa sih IE itu?
Seperti juga namanya, IE adalah salah satu cabang Ilmu Teknik - jadi anda adalah engineer.

#Oke, trus? kalao itu saya juga tahu
Disiplin ilmu IE dikembangkan, karena dirasakan bahwa masih ada yang kurang dari disiplin ilmu teknik yang lain. Ilmu teknik lain seperti teknik mesin dikembangkan dengan sangat canggih, sangat berguna namun saat diterapkan dalam lingkup industri terasa ada yang kurang.

Karena itu diperlukan cabang ilmu teknik baru: IE untuk melengkapinya

#Kurangnya apa sih. Teknik Mesin kan canggih sekali - lihat tuh MIT
Yup, Teknik Mesin emang canggih, demikian juga teknik yang lain. Cabang Ilmu  teknik (selain IE) dikembangkan berdasarkan domain (=ranah) ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, Mechanical Engineering (ME) sebenarnya agak kurang pas kalo diterjemahkan Teknik Mesin (Engine Engineering? Machine Engineering?), mungkin akan lebih sip kalau disebut Teknik Mekanika.

Tapi anyway, point-nya adalah bahwa ME berada pada domain (ranah) mechanics. Jadi salah satu dasar ilmu teknik Mesin adalah Mechanics (masih inget hukum Newton I, II, III ?, teori mekanika kuantum?, relativitas newton?). Ditambah dengan ilmu yang satu famili (misal: termodinamika dan ilmu material), jadilah Mechanical Engineering menjadi ilmu yang hebat.

Sekali lagi, Cabang Ilmu Teknik seperti ME, EE, CE  dikembangkan berdasarkan domain (=ranah) ilmu pengetahuan. Bahasan dan perkembangan kompetensi dasar dari Engineer-nya juga berada pada sekitar domain ilmu tersebut.

# So, gimana dengan peran IE?
Seperti dikemukakan semula, IE dikembangkan untuk melengkapi ilmu-ilmu teknik lainnya.

Karena ilmu teknik yang lain dikembangkan dengan konsep domain-specific, maka saat diterapkan di industri menjadi ada kekurangannya. Contohnya, saat  mesin-mesin produksi yang sudah didesain dengan sangat canggih oleh ME "diletakkan" di pabrik, maka perlu dipikirkan bagaimana peletakan posisi nya yang paling optimal (ting … kuliah tata letak di IE). Dalam kasus ini, tanggung jawab ME adalah merancang, membuat mesin produksi yang secara individual optimal. IE bertugas merancang dan membuat SISTEM PRODUKSI (gabungan mesin-mesin produksi) yang optimal.

Jadi, peran IE akan menonjol saat kita bicara dalam level sistem industri. IE adalah teknik sistem.

# Lho tapi,… sebuah mesin bubut adalah juga sebuah sistem tho? Kenapa itu menjadi urusannya ME bukan IE?
Good point. Betul, betul.
Kalau kita perhatikan, mesin bubut pun sebuah sistem. Terdiri dari elemen-elemen yang terkait satu dengan yang lain menjadi suatu mekanisme dengan tugas tertentu.

Nanti kita akan bahas, SISTEM seperti apa yang biasanya menjadi MINATnya IE.
Sabar nape?

# Ada gak contoh kasus dari uraian sebelumnya?
Yup.
Sebenarnya kebangkitan ilmu IE dimulai setelah WWII [tahu gak?]. Industri US- amrik (terutama industri otomotif-nya) merasakan bahwa dari timur sono mulai muncul pesaing yang gak bisa diremehin. Siapakah dia? yak Jepang; tepatnya? TOyota. [lihat artikel lain di blog ini yang mendongengkan cerita ini].

Intinya adalah, karena merasa tersaingi, akhirnya US bertanya-tanya "what’s wrong with us? - what’s right with them?"
Akhirnya dilakukan penelitian [yup penelitian, tapi buka skripsi] yang dikomandani oleh MIT. Setelah dilakukan penelitian yang komprehensif selama 5 tahun (atau 8 tahun ya?); didapatkan hasil bahwa:

Gaya / metode / cara orang Jepang memproduksi mobil beda banget dibanding US.

Peneliti dari MIT (Womack dkk) ngasih nama sistem produksi jepang: Lean Production. Hasil penelitian juga sudah dibukukan, sangat menarik: "The Machine that Changed The World". Sila cek di perpus anda. Menurut saya setiap IE-er wajib baca buku ini. [FS aja punya masak blum pernah baca buku ini].

Singkat kata, "Lean production"-nya Jepang telah membuka mata US bahwa MEMPRODUKSI tidak hanya berhubungan dengan MESIN PRODUKSI. Memproduksi berarti harus juga mepertimbangkan FAKTOR MANUSIA (ting .. human factor - ergonomi). Di dalam lingkup produksi, ada buanyak ELEMEN yang harus dipertimbangkan: ada mesin, ada pekerja (yang gak bisa dianggap sebagai robot atau mesin), ada budaya kerja, ada supplier relationship, ada customer voice, ada product design, ada keselamatan kerja, ada limbah industri dan tentu saja bicara analisis biaya.

Well, enough to say: perlu ada orang yang memikirkan semua itu dalam satu kerangka pemikiran SISTEM PRODUKSI –> IE-ers.

# Jadi peran IE?
Di sini peran IE adalah SYSTEM integrator. Tujuan utamanya adalah membuat SINERGI antar elemen dalam sistem tersebut.
IE mengenali dan memahami elemen-elemen tadi. Elemen-elemen tersebut saling terkait, tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

Kadang, jika kita ingin meningkatkan kinerja salah satu elemen tersebut, elemen yang lain justru akan turun kinerjanya.
Contoh: kalau kita ingin mengurangi backlog dengan inventory lebih banyak, maka biaya inventory akan naik (ting … PPIC).

Karenanya IE dipersenjatai dengan, salah satunya,  teknik optimasi (ting… OR1, OR2) dan teori keputusan.

#Oke, jadi kalau ilmu teknik yang lain adalah domain-specific, lalu IE bagaimana?

Inilah bedanya IE dengan ilmu teknik yang lain. IE tidaklah domain-specific tapi methodology-driven.

# What ??
Methodology-driven artinya IE-ers akan dibekali dengan seperangkat metode analisis sebagai senjata andalannya. Alat analisis tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah pada berbagai macam domain, tergantung di mana IE-ers bekerja.

Tujuannya adalah: sinergi, atau optimasi, atau improvement dari suatu SYSTEM.

Jadi kalo ME akan selalu berada di domain mechanics, IE bisa ditugasi untuk mendesain, membuat, menganalisis SISTEM di domain apapun, asal …

# ternyata ada asalnya juga …
asalkan sistemnya masuk dalam kategori SOCIO-technical system.

# What ????
SOCIO-technical system berarti suatu sistem yang secara dominan memiliki dua elemen utama: SOCIO (manusia) dan TECHNICAL (unsur teknologi).
disitulah IE-ers bekerja.

# Jadi domainnya sangat luas dong untuk IE?
Domain bukanlah isu utama untuk IE. Asalkan sistemnya SOCIO-TECHNICAL, maka IE oke-oke aja.Artinya metodologi-nya bisa diaplikasikan Jadi sekali lagi methodology-driven bukan domain-specific.

#Contoh SOCIO-technical system?
Coba tebak mana yang termasuk SOCIO-technical system ??
a. sistem manufaktur
b. desain chips komputer
c. transportasi masal
d. bandar udara
e. taman nasional
f. sistem pertahanan

jawab:
a –> jelas iya, no doubt
b –> bukan, unsur SOCIO tidak ada. Kalau pabrik Chips komputer baru iya. Pabrik Chips potato juga iya.
c –> iya, ada teknologinya (MRT, sistem sinyal, ada jalan layang, jembatan, jalan tol), ada CUSTOMER, ada pemerintah, dsb
d –> iya
e –> bukan, lebih ke natural environment; bukan buatan manusia.
f –> iyes, ada tentara kita, ada tentara musuh, ada sistem radar, ada sistem navigasi, ada pesawat tempur, sistem persenjataan arhanud, dll

# Kenapa IE di Indonesia cenderung ke arah sistem manufaktur?
Karena sistem manufaktur adalah sistem yang paling konkret, bisa dilihat, bisa diraba, sehingga memudahkan mahasiswa untuk mempelajarinya.

Bayangkan kalo kita bicara DPMO (ting… six sigma) pada produk manufaktur, misal: handphone. Kita akan jauh lebih mudah membayangkannya dibandingkan misal DPMO untuk sistem radar pertahanan udara.

Di samping itu, dengan menggunakan manufaktur sebagai case-studynya, maka IE bisa melakukan prinsip economies of scale dan economies of scope (ting … ekonomi teknik).

Tapi, itu tidak berarti  bahwa metodologi IE tidak bisa digunakan di  domain yang lain.

#Jadi setelah kerja, tidak harus di manufaktur?
Saya katakan:
1. bidang manufaktur oke, tapi bidang lain juga sangat butuh kompetensi dari IE-ers.
2. trend bisnis global menunjukkan konvergensi (melebur, menyatunya) antara manufaktur dan jasa. Fortune misalnya, dalam surveynya, sudah tidak lagi membedakan antara manufaktur dan service karena memang semakin susah dibedakan.
contoh:
a. Microsoft - manufaktur atau service?
b. kopi - produk atau service?

kopi dibeli perkarung jelas produk, tepatnya komoditi
kopi di dalam sachect  masih produk
kopi di starbuck ? kopi di angkringan? di Omah dhuwur?

Saya katakan, IE-ers bisa bekerja di SOCIO-Technical systems yang mana saja.
Bisa di manufaktur, di sistem pertahanan, di logistik, di BI, di konsultan seperti Accenture, McKinsey, PwC, AC Nielsen, di LSM seperti Green Peace, wira usaha - technopreuneur, … etc you name it !!

Yang penting adalah jangan lupakan engineering methodology yang sudah anda pelajari dulu.

# Kompetensi dasar IE?
Jadi, dari uraian di atas,jelas terlihat karena IE-ers mengurusi SOCIO-TECHNICAL SYSTEMS, maka IE-ers WAJIB menguasai:

a. Human Factors - ergonomi fisik, kognitif, antropologi, dll
b. Operations Research - optimasi, teori keputusan, dll
c. Rekayasa Produksi - manajemen proyek, sistem produksi, kualitas, dll

d. Berpikir Sistem - kemampuan untuk melihat sistem secara holistik

# Super kompetensi dari IE?
Hal terpenting yang harus dikuasai oleh IE-ers adalah: kemampuan Belajar untuk Belajar (learning how to learn).
Artinya, setiap saat setiap waktu harus selalu MAU dan MAMPU belajar hal-hal yang baru, berpikiran terbuka. Ilmu IE berkembang dengan sangat cepat. Anda gak mau jadi dinosaurus kan?

IE-ers juga harus bisa working smart and working together.

# ada kata penutup?
IE-ers must be proud of becoming engineers.
Integritas, profesionalisme dan kompetensi - dan doa jadi kunci sukses

TI-ers Ganbatte !!
(c) b oe d

A poem by Khalil Gibran

June 25th, 2007 by budih

ON Friendship

And a youth said, "Speak to us of Friendship."

Your friend is your needs answered.
He is your field which you sow with love and reap with thanksgiving.
And he is your board and your fireside.

For you come to him with your hunger, and you seek him for peace.
When your friend speaks his mind you fear not the "nay" in your own mind, nor do you withhold the "ay."
And when he is silent your heart ceases not to listen to his heart;

For without words, in friendship, all thoughts, all desires, all expectations are born and shared, with joy that is unacclaimed.
When you part from your friend, you grieve not;

For that which you love most in him may be clearer in his absence, as the mountain to the climber is clearer from the plain.
And let there be no purpose in friendship save the deepening of the spirit.

For love that seeks aught but the disclosure of its own mystery is not love but a net cast forth: and only the unprofitable is caught.
And let your best be for your friend.
If he must know the ebb of your tide, let him know its flood also.

For what is your friend that you should seek him with hours to kill?
Seek him always with hours to live.

For it is his to fill your need, but not your emptiness.
And in the sweetness of friendship let there be laughter, and sharing of pleasures.

For in the dew of little things the heart finds its morning and is refreshed.

Khalil Gibran
poemhunter-dot-com

Baratha Yuda - the great battle

June 25th, 2007 by budih

Today is the last day of the Baratha Yudha
The great infamous battle among Barathas
The dawn … and the end…

On the top of the hill, Arjuna speaks to his brother Khrisna - The Visnhu
"Brother we won this battle, what’s our next endeavor?"
"Arjuna, there is only one way for the man who has reached the summit - STEPPING DOWN"

June 26th 2007 - 1:16 am Singapore
(C) b oe d

The Journey of Young Engineers

May 20th, 2007 by budih

Halo young engineers,

Sebagai seorang insinyur muda, kadang kita masih bingung jalan mana yang harus kita tempuh setelah lulus. Tentu sebagian besar dari kita ingin menjadi someone /seseorang. Menjadi seseorang artinya, menurut saya adalah [dan tentunya seperti biasa kita boleh sepakat untuk tidak sepakat], bahwa ketidakhadiran kita akan membuat ‘ada sesuatu yang kurang’, something’s missing when you are not there.

Agar bisa menjadi seseorang, kita perlu melakukan sebuah perjalanan. Ibarat sebuah kapal, perjalanan yang akan selalu penuh rintangan, godaan, bajak laut, ombak besar, dan sebagainya. Banyak ketidakpastian.

Sebuah bacaan mengatakan bahwa untuk menjadi seseorang, kita harus menemukan jawaban atas tiga pertanyaan:

(1) What is your real competence? - apa kemampuan yang paling kamu andalkan

(2) What is your really passionate about? - apa hal yang benar-benar kamu ingin lakukan

(3) What are the needs of the community? - apa yang dibutuhkan oleh lingkunganmu

Jika kita ibaratkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah tiga lingkaran yang saling overlap, carilah daerah yang dicover oleh ketiganya - dan FOKUSKAN ENERGI dan DOAMU di sana.

TI-ers - Ganbatte!!

b oe d

Research = Re-SEARCH

May 20th, 2007 by budih

RE-SEARCH - a journey

Research falls in the spectrum of soft projects

It is ill-defined

It is ambiguous

It is fully uncertain

…………………………………………………….. especially in the beginning

 

Research without above characteristics is NOT worth pursuing

It may not even be categorized as research

 

You are not a goal-seeking machine, rather you are a living organism

Keep all the options open – to develop your multimental models

Keep your mind open – be flexible

Keep your persistence

Keep praying

 

It is THE process – not only the results

 

——–

Sejarah TEKNIK INDUSTRI (IE)-01

May 4th, 2007 by budih

Sejarah tentang Industrial & Systems Engineering - bagian 1

bagaimana ceritanya disiplin ilmu Teknik Industri dikembangkan. Siapakah pelaku-pelaku utama yang berjasa, apa pengaruhnya pada dunia industri …….kita mendongeng dulu …

Tentunya anda boleh sepakat untuk tidak sepakat dengan saya. Tapi saya coba uraikan pemahaman saya. Teknik Industri (IE) dilihat dari sejarahnya lahir di dunia manufaktur. Kakek moyang IE adalah management science dan operations resaearch sejak jamannya Frederick Taylor. IE bisa juga ditelusuri ke lini produksi milik Ford. Perlu diingatkan di sini bahwa kontribusi utama dari Ford bukanlah metode ban berjalannya. Secara konseptual, Ford telah meletakkan dasar-dasar mass production di lini produksinya.

Sebelum lini produksi Ford dibuat, mobil jaman baheula dibuat dengan pendekatan craft alias kerajinan tangan. Analoginya ya kira-kira seperti pembuatan keris di Jawa. Sebagai kerajinan tangan, mobil dibuat oleh empu yang sangat mahir dan terampil. Ibarat keris, seumua produk unik. Kalau satunya berluk 5 diberi nama setan kober (halah) yang lain akan berluk n diberi nama y=f(n), dst. Akibatnya, harga mobil menjadi sangat mahal saat itu dan ongkos perawatannya enjadi mahal juga karena tidak ada suku cadang standar.

Ford mengubah paradigma craft menjadi mass production. Salah satu penemuan fenomenalnya adalah standarisasi produk dan suku cadang. (Sekali lagi bukan ban berjalan). Akibatnya dramatis, dengan standarisasi maka mobil tidak perlu lagi dibuat oleh seorang empu. Dengan produk standar, pekerjaan pn bisa distandarisasi sehigga pekerja dengan tingkat kemampuan rendah bisa menjalankan pekerjaan yang memang dibuat sangat spesifik. [Ibarat kate, kalo si X kerjaannya pasang roda - lima tahun kerja di situ juga cuman pasang roda gitu].

Dengan pendekatan mass production, maka sistem manufaktur milik Ford bisa mengeksploitasi economies of scale [ini anak IE pasti tau]. Di samping itu, dengan pekerjaan yang berulang-ulang, pekerja akan mengalami proses yang mengikuti pola learning curve [ini juga anak IE harus tahu]. Dengan harga produk mobil yang jauh lebih murah, Ford bisa mengambil market share dari para empu yang disebut di atas. Dengan pendekatan mass production-nya Ford pernah sesumbar ke pelanggannya, kira-kira begini: "You boleh pesen mobil Ford warna apa aje, denger nih … warna apa aje ye …… yang penting hitem".

Seiring dengan kemajuan bisnisnya, skala sistem manufaktur dari Ford bertambah besar. Sayangnya, waktu itu dia belum bisa rekrut seorang IE [lha wong belum ada]. Sistem makin kompleks, baik ditinjau dari detail complexity maupun dynamic complexity [ada yang tau maksudnya? perlu dijelasin gak?].

Alfred Sloan adalah seorang petinggi perusahaan saingan Ford [guess what? Di detroit ada tiga perusahaan otomotif raksasa]. Perusahaan ini juga telah memanfaatkan mass production mengikuti jejak Ford. Alfred Sloan (sekarang nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah business school yang sangat terkenal, MIT Sloan School of management) [kalau ada yang gak tau MIT kebangeten]. Pak Sloan melangkah satu tahap lebih maju dari pada Ford dengan memperkenalkan delegasi wewenang di manajemen. Jadi, saat Ford masih berfokus ke lini produksinya, Sloan sudah berpikir dengan melebarkan system boundary-nya dengan memasukkan lingkup yang lebih luas.

Next …

Toyota menghantam industri otomotif USA dengan lean manufacturingnya.

[all comments, feedbacks are mostly welcome]

(c) boed ~ http://www.boed.staff.ugm.ac.id