Archive for August, 2007

Ingin menjadi dosen [?] Fakta & Mitos

Sunday, August 26th, 2007

On Becoming a Lecturer: Facts and Myths (part I of II)

IE-ers. Setelah anda lulus anda ingin jadi apa?
Bidang kerja IE sebenarnya sangat luas, peluang bekerja anda sangat bervariasi. Sebelum akhirnya anda memilih (ya memilih bukan terpaksa) suatu jalur karier, seperti yang pernah saya sampaikan; pertimbangkan hal berikut:
a. passion
b. competence
c. contribution to the community.

Jika ternyata anda merasa bahwa dari tiga hal tersebut, anda punya "feeling" ingin menjadi seorang dosen - mungkin ada baiknya anda sempatkan membaca tulisan di bawah ini.

Tulisan ini tentunya adalah pendapat pribadi, tidak mencerinkan pendapat suatu institusi. Dan seperti biasa, kita bisa sepakat untuk tidak sepakat. Mari kita lihat satu persatu "mitos" dan "fakta" seputar profesi dosen.

# Dosen = pilihan terakhir
Ini terjadi jika anda sudah melamar ke sana ke mari di berbagai perusahaan, pemda dan sejenisnya dan belum beruntung. Akhirnya, sebagai pilihan terakhir anda TERPAKSA melamar menjadi dosen dan diterima.

Saya sungguh prihatin jika anda nanti mengalami hal seperti ini. Bekerja apapun itu, jika terpaksa ya berarti nggak ikhlas. Jika tidak ikhlas anda tidak akan termotivasi. Kerja anda menjadi tidak 100%. You’re wasting your time. 

Karier sebagai dosen, terutama di PT favorit & Jurusan favorit (seperti TI UGM, he he…) sudah sangat kompetitif. Kompetitif sejak dari seleksi masuknya maupun dalam perjalanan kariernya. Anda yang gak ikhlas alias terpaksa tidak akan bisa bertahan dalam dunia yang sangat kompetitif.

# Dosen = santai
Mungkin sebagian dari kita menganggap kerja dosen santai. Dosen ‘kan ngajarnya sedikit SKS. Bisa masuk kerja semau gue jamnya. Abis kuliah ngilang. Nggak ada yg bakal marahin seperti kalau kerja di kantor atau pabrik.

Well, it all depends.
Memang tidak ada yang menegur, tapi kita semua kan tahu, di ATAS sana ada yang memonitor?  Kalau saya melihat bahwa kerja dosen sama dengan kerja di kantoran atau pabrikan. Anda saat masuk pertama kali sudah menandatangani kontrak kerja. Sebesar apapun gaji anda, anda harus menghargai kontrak anda sebagai dosen. Anda gak bisa seenaknya ngilang setelah atau sebelum ngajar, apalagi saat jam kerja, kecuali sedang mengerjakan tugas. Saat anda tanda tangan kontrak, berarti anda sudah terikat janji untuk bekerja dengan profesional.

Perlu diingat pula bahwa tugas dosen ada tiga:
a. edukasi
b. penelitian
c. community services

Jadi, kalo anda bayangkan dosen bisa bersantai saat tidak ada kuliah, ya itu tidak tepat. Kuliah di kelas hanyalah sebagian dari tugas anda. Di bidang edukasi, di samping mengajar di depan kelas, anda juga bertanggung jawab memeriksa ujian, memutakhirkan bahan ajar, membaca buku-buku terbaru, membuat inovasi kegiatan belajar. Mahasiswa anda nantinya kan pasti gak senang kalo dapet kuliah yg isi materinya dibuat 10 tahun yang lalu - outdated. Anda cuman ngajarin apa yg dulu anda dapetkan waktu kuliah. Ilmu IE berkembang sangat pesat. Belum kegiatan lain seperti penelitian yg bisa sangat memakan waktu (dan menguras pikiran), serta pengabdian masyarakat.

Menurut saya, base tempat kerja dosen ya Laboratoriumnya. Jadi, saat tidak sedang mengajar di kelas atau melaksanakan tugas lain; dosen harusnya gampang ditemui di Lab-nya. Seperti halnya pekerja kantoran / pabrikan, dosen semestinya gampang ditemui di ruangannya.

Jadi kalau motivasi anda menjadi dosen adalah supaya bisa banyak waktu luang, well… dengan berat hati saya katakan anda tidak benar.

# Dosen itu gajinya kecil
Persepsi yang sangat biasa muncul terutama di Indonesia. Kalau anda jadi profesor di Malaysia atau Singapura, kasus ini jelas gak ada. Anda tahu berapa gaji seorang profesor di Singapura? SGD 20,000 perbulan. Silahkan anda konversi sendiri ke rupiah.

Oke, lalu bagaimana dengan di Indonesia?
Saya selalu teringat pesan salah satu dosen saya dulu di ITB: "dosen itu memang gaji (salary)-nya rendah, tapi pendapatannya (income)-nya tergantung dari dosen itu sendiri". Trus saya membatin "apalagi kalo kerjanya di PT favorit plus di Jurusan favorit", seperti di … [you know].

Prinsipnya adalah bekerja dengan bersungguh-sungguh, jujur, dan berprestasilah. Rejeki yang memang sudah diatur oleh Allah SWT, Insya Allah akan mengikuti dedikasi, kesungguhan, doa, dan kejujuran anda. Tentunya, hal itu perlu proses.

Sebagai gambaran kasar, dulu si X pernah bekerja di kontraktor Jakarta. Setelah pindah ke luar kota dan memilih (ya MEMILIH, bukan terpaksa) menjadi dosen, berdasar informasi , rejeki si X setelah menjadi dosen tak kalah dibandingkan saat kerja di kontrakor - seringnya lebih besar. :)

So don’t worry rejeki sudah ada yang mengatur.

# Proyek
"Dosen mroyek". Kalimat ini biasanya berimplikasi negatif.
Saya pribadi berpendapat bahwa bekerja sama dengan industri untuk seorang dosen itu boleh - bahkan harus. Bekerja sama dengan industri untuk seorang dosen saya masukkan dalam kategori pengabdian masyarakat. Kalo anda dosen IE, tentunya anda harusnya punya link dengan para profesional di bidang itu juga kan?

Mahasiswa anda tentu lebih bangga kalau tahu ternyata dosennya punya relasi yang luas dan baik dengan dunia industri. Pendapat dosennya menjadi pegangan dunia industri. dll. Dengan relasi yang kuat antara dosen dan industri, lulusan akan lebih mudah diterima kerja. Mahasiswa akan lebih mudah mendapatkan tempat magang, kerja praktek, tempat skripsi, dll.

Kerja sama dengan industri akan membuat dosen jadi gaul - nggak kuper. Bayangkan kalau dosennya aja kuper, gak ngeh kalau di luar sana ternyata -misal- linear programming sudah biasa dipakai di industri dengan menggunakan Excel. Kira-kira mahasiswanya akan seperti apa?

Berikut saya kutipkan pendapat dari salah satu profesor (A/Prof Tang Loon Ching) di NUS mengenai proyek dosen. Beliau menggunakan istilah "konsultasi dan kolaborasi industri".

There is no better way in demonstrating the relevance of course materials than real applications by means of industrial collaborations and/or consulting. More importantly, questions arising from the course of consulting can often be translated to problems worthy of further research. The trio, i.e. research, teaching and consulting, is the corner stone in a knowledge enterprise (emphasis added).

Tentu, tidak sembarang proyek bisa diambil dosen. Jadi sebenarnya apa sih proyek itu buat seorang dosen?
a. Proyek = interaksi ilmu teori dan praktis antara dosen dan mereka yg bekerja di dunia industri.
b. Proyek = network dengan dunia industri
c. proyek = tugas institusi, menambah pendapatan untuk institusi
d. proyek tidak melupakan tugas dosen yg lain

silahkan tinggalkan pesan anda - bersambung …

Negeri di Awan

Sunday, August 12th, 2007

Ki_mum_small_1

[dedicated to my most beloved
twin angels]


Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Di masa lalu

Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negri di awan

Di mana kedamaian menjadi istananya

Dan kini tengah kau bawa
Aku menuju ke sana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih

(c) Katon Bagaskara ~ http://youtube.com/watch?v=lAUhV7FeTXI

TI UGM dalam statistik

Sunday, August 12th, 2007

Berikut ini adalah gambaran statistik mahasiswa baru yang masuk melalui jalur UM 2007.
Sumber data: Pak Djoko Luk
Pak Djoko menyatakan "nilai rerata mahasiswa baru UGM tidak saya bedakan
IPA & IPC dlsb".

Mari kita telaah satu per satu untuk melihat "positioning" prodi TI UGM di level universitas.

1. Rasio peminat terhadap mahasiswa yg diterima
Peminatvsditerima

Pada data di atas, tidak dibedakan antara peminat pada pilihan#1, #2, dan #3.

Dari data di atas, terlihat bahwa pada level Fakultas Teknik, TI UGM adalah prodi dengan rasio paling tinggi. Artinya, di antara prodi di Teknik, mahasiswa TI UGM 2007 yg melaui jalur UM telah bertarung paling keras - karena tingkat kompetisinya tertinggi di FT.

Kita tidak bisa membandingkan rasio milik prodi di FT dengan prodi di Fakultas lain, seperti di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB). Jika anda bandingkan, rasio prodi FT jauh lebih rendah dari FEB - dan anda tidak bisa membandingkannya.
Mengapa?   
Karena ada jalur IPA-IPS-IPC (lihat pernyataan pak Djoko di atas).
Seperti kita tahu, sebagian CaMa dari ilmu eksakta mengambil jalur IPC - sehingga akan menambah tinggi rasio prodi-prodi non eksakta. Sementara itu, CaMa dari ilmu non-eksakta sangat jarang mengambil jalur IPC. Karenanya, rasio dari prodi-prodi di ilmu eksakta - terutama FT tidak terdongkrak.

Karenanya, misal, rasio prodi TI tidak bisa dibandingkan dengan rasio di prodi manajemen.

2. Nilai Rerata
Jika informasi di poin 1 memiliki kemungkinan bias karena adanya jalur IPC, maka info tentang nilai rerata bisa dikatakan lebih akurat untuk merefleksikan tingkat persaingan antar CaMA.

Berikut adalah pernyataan dari Pak Djoko:
"Saya tayang rasio nilai rerata mhs yang diterima tiap
Prodi thd nilai rerata UGM. Nilai 1 berarti mahasiswa yang diterima pada prodi
tersebut merupakan mahasiswa dengan kemampuan rerata di UGM. Nilai lebih besar 1
berarti mahasiswa yang diterima pada prodi tersebut kemampuannya lebih baik
dibandingkan kebanyakan mahasiswa UGM"

 
Nilairerata

Dari data di atas terlihat bahwa nilai rerata mahasiswa TI UGM tertinggi di FT. Hal ini konsisten dengan analisis pada poin pertama di atas.
Dilihat pada skala universitas, nilai rerata mahasiswa TI UGM berada pada peringkat  ketiga, di bawah pendidikan Kedokteran dan Ilmu Komputer. Rasio rerata mahasiswa 2007 TI adalah 1,38 yang artinya on average, skor mahasiswa TI 2007 adalah  1,38x skor rata-rata mahasiswa UGM 2007 secara keseluruhan.

Menurut saya, data poin dua ini leih valid digunakan sebagai proxy atau indikator persaingan CaMA karena analisis didasarkan pada nilai rasio CaMA yg benar-benar diterima di sebuah prodi, bukan hanya
CaMa yang berminat (pilihan#1, 2, atau 3).

(c) boed

Tidurlah TIdur Bidadariku

Saturday, August 4th, 2007

_ki_08

[miss u my little angel]


Ohh…di kedalaman tidurmu

Kau tersenyum lugu

Hmm…mendekap damai dan tak berdosa

Ku..belai gelombang rambutmu

Menitipkan kasih sayang

Semoga berlimpah ruah bahagia

Kita reguk bersama

Tidurlah tidur bidadari kecilku

Setelah lelah kau bermain

Mimpikan dirimu dalam istana

Menari (lincah dan bernyanyi merdu) penuh suka

Dan kukecup lembut keningmu

Rasa haru luluh jua

Jangan dulu terjaga sampai pagi tiba

Menjemput hari

Tidurlah tidur bintang kesayanganku

Bersinar menerangi sukma


Engkaulah juga yang jadi alasan

Hingga kupacu semangat hidup menyimpan harapan

Kelak satu saat nanti kau beranjak dewasa

Pilihlah jalan lurus nan murni tempatmu melangkah

Menuju cita mengenggam asa

Kau tentukan warna tuk hidupmu

Sejak dari mula lebih baik kau jaga langkah

Berbekal waspada

(c) By Katon Bagaskara

http://youtube.com/watch?v=1-Zg64vXW4g

The Young Engineer’s Dilemma

Thursday, August 2nd, 2007

Bayangkan seandainya anda pada posisi ini, what ‘r u gonna do? Kasus ini pernah menjadi ‘hot topic dan hot debate‘ di salah satu sesi diskusi di perkuliahan manajemen proyek di Teknik Industri / Teknik Mesin - UGM yang kebetulan saya ampu.

—-
Anda adalah seorang project manager, bekerja pada sebuah perusahaan konstruksi. Anda faham betul bahwa hidup mati dari sebuah perusahaan konstruksi tergantung dari proyek. Perusahaan hidup dari satu proyek ke proyek yang lain. No project no cash inflow.

Suatu saat perusahaan anda sedang berada dalam kondisi krisis. Sekian lama sudah tak mendapatkan proyek yang signifikan - cash flow perusahaan terganggu. Nasib 250 karyawan di perusahaan anda di ujung tanduk. [n.b. berarti 250x4 = 1000 orang bernasib tak jelas ]. Tanpa proyek baru, kemungkinan terjadi lay-off besar-besaran.

Kebetulan anda sebagai seorang project manager sedang menangani proposal  proyek besar. Jika anda berhasil mendapatkan kontrak, at least untuk 5 tahun ke depan cash flow perusahaan anda aman. No PHK.

Pagi itu, hp anda berdering. Ternyata calon klien anda menelpun. Setelah basa-basi ke sana kemari, sang calon klien bicara:

"Let me put it this way.Loud & clear. I know your company badly needs this project. That’s why  I will  give the project to you -not to the competitors. I consider and respect our long-term relationships so far.

All  I  need  is  a 5% kick-back from your project. Off course, it won’t be formally recorded on the contract. If u agree, I’ll sign the contract right now. You give me  the  5%  by next month. Direct transfer to my bank account in Cayman Island. Or else - I’ll find another company which will be more than happy to give me 7%"

So what r u gonna do?
a. terima kontrak, selamatkan 1000 orang tapi menentang hati nurani
b. tak terima kontrak, proyek jatuh ke kompetitor, perusahaan bangkrut - 1000 orang tak jelas nasibnya?
c. or ???

–boed