Berhenti Ngeblog !!!

November 30th, 2007 by budih

Setelah dipikirkan dengan seksama dalam tempo yang cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti blogging


di Friendster.
Alamat baru sekarang ada di
http://budihartono.wordpress.com/

regards
b oe d

Bekerja dengan CInta

November 11th, 2007 by budih

Bekerja dengan cinta
Bagai sang pencipta

adalah sepenggal bait lagu Kla Project yang populer pada jamannya.
Saat saya membaca koran The Straits Times edisi Rabu 7 Nove 2007, saya  jadi  teringat dengan lagu itu.

Ceritanya, di Singapore ini setiap tahun diadakan pemberian awards untuk karyawan yg mereka sebut Excellent Service Awards. Dari berbagai industri, dinominasikanlah karyawan-karyawan yang dianggap "going extra miles". Artinya, karyawan yang mau bekerja dan melayani pelanggannya jauh di atas standar.

Pemenangnya beragam, ada sopir bis, karyawan di counter airport, perawat, dll. Di koran tersebut, profil-profil mereka diekspose. Meski latar belakang mereka beragam, namun ada satu kesamaan: mereka bekerja dengan cinta. Jika kita melihatnya dari teori kebutuhannya Abraham Maslow; mereka inilah yang berada pada puncak piramida Maslow’s hierarchy of needs.

Ayo kita lihat beberapa komentar para pemenang tersebut yg saya kutip dari koran:

1. Hoy Man Lin, 54, bus captain
(sopir bis)
A bus driver for the past 14 years, Mr Hoy reports to work each morning between 4am and 5 am
[jam kerja normal di Singapura dimulai jam 9:00 am] with a single minded aim: to brigthen the day for someone else.

"My fulfillment comes whenever I see people happier as they see the bus approaching the bus stop … knowing that someone is waiting at the bus stop for me keeps me punctual and motivated"

2. Ms. Garmit Kaur (customer service, SIA)
[In one occasion]  Ms Kaur managed to find a plane seat for Mr David Irwin, who needed to return to Melbourne urgently as a family member had died. All the flights to Melbourne were full that day. Fortunately she was able to book and confirm his flight. She also informed the boarding gate crew about his special circumstances and asked that they take special care of him.

"I am a people-oriented person, and I would go extra mile for any passenger. I put myself in their shoes, showing empathy and serving them in the same way that I would like to be served".

Well, saya yakin banyak orang Indonesia yang bekerja dengan prinsip yang sama: bekerja dengan cinta. IE-ers, apakah anda salah satunya?

(b oe d)

Ingin Menjadi Dosen [?] ~bagian 2

November 10th, 2007 by budih

On Becoming a Lecturer: Facts and Myths (part II of II)

Oke deh, kita lanjutin obrolan santai tentang fakta dan mitos mengenai  dosen.
Perlu diingetin lagi nih bahwa semua yg ditulis di blog ini adalah pendapat pribadi. Tidak terkait ataupun mencerminkan kebijakan dari suatu institusi.
Jadi seperti biasa kita bisa sepakat untuk tidak sepakat.

# Setelah lulus, langsung jadi dosen atau …
Kalo saya dulunya gak langsung jadi dosen. Habis lulus di Mesin ITB, saya kerja dulu di sebuah BUMN di Jakarta selama tiga tahun. Dari pengalaman saya sendiri dan hasil ngobrol dengan beberapa kolega, dapat disarikan bahwa kerja di industri sebelum menjadi dosen memberi beberapa keuntungan:
a. Hand on experience
Yang jelas setelah kita sempat kerja di industri, pandangan kita menjadi lebih terbuka mengenai dunia nyata. Bahwa apa yg ada di text book tidak selalu jalan di dunia nyata. Hal ini disebabkan adanya perbedaan konteks, paradigma, asumsi yang digunakan di textbook  dan  di dunia  nyata.  Bukan berarti  bahwa ilmu text book tidak berguna di dunia nyata, namun lebih seringnya kita harus mengadaptasi konsep-konsep textbook agar kontekstual.

Selain itu, dengan merasakan sendiri bekerja di dunia industri, dosen akan bisa menyisipkan pengalaman-pengalamannya di saat memberi pelajaran. Contoh-contoh yang ditampilkan saat mengajar menjadi realistis - dan mudaha-mudahan menjadi lebih menarik bagi mahasiswa.

b Network
Dengan pernah merasakan bekerja di industri, jaringan pertemanan / komunikasi kita menjadi luas, terutama di bidang kerja kita. Sebagai contoh, karena saya dulu bekerja di Engineering & Construction company, maka saya jadi punya banyak kenalan di ranah ini.

Network yang luas akan berguna sekali, misalnya: membantu dalam penelitian, tukar informasi tentang pengetahuan terbaru, konsultasi, dsb.

c Open Minded
Terkadang dosen terlalu fokus ke bidangnya, dan tidak mau tahu lagi hal lain di luar bidang keilmuannya. Misal, karena merasa sebagai dosen teknik maka anti dengan segala hal terkait manajemen. Pendekatan seperti ini sangat tidak cocok untuk domain teknik Industri karena enjineer teknik industri dituntut untuk mampu bekerja di berbagai macam SOCIO-TECHNICAL SISTEM. Agar enjineer IE bisa berpikiran luas, maka dosennya harus juga mampu berpikiran luas dan bisa ‘menularkannya’ ke mahasiswanya.

Kesempatan untuk bekerja di dunia industri akan memberikan peluang untuk melihat dunia industri dalam ‘gambar besar’ - suka atau tidak suka. Saat anda bekerja di dunia industri, anda akan terekspose pada tugas-tugas yang menuntut anda untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dan melihat masalah secara sistemik / holistik. Trend kerja di industri saat ini adalah mengurangi / menghilangkan silos of expertise. Anda akan membawa attitude ini saat anda menjadi dosen.

d Memperjelas niat
Menjadi dosen, menurut saya, adalah panggilan. Seorang dosen [seharusnya] dituntut untuk banyak berkorban dengan tujuan menjadi pendidik yg baik. Banyak tantangan dan godaan dalam perjalanan untuk menjadi seorang dosen. Gaji yang besar di tempat lain, misalnya.

Karenanya, untuk meyakinkan apakah anda benar-benar ingin (passionate) menjadi dosen, salah satunya adalah dengan ‘mencicipi’ pekerjaan lain - di industri. Jika ternyata setelah anda bekerja di industri sekian lama, dengan gaji yg cukup, fasilitas oke, dan hati kecil anda tetap menginginkan menjadi dosen - berarti dosen adalah panggilan jiwa anda.

Anda tidak akan sedih saat bertemu teman seangkatan anda sudah menjadi manajer di sana, mondar-mandir ke LN, gaji besar, dsb karena menjadi dosen adalah PILIHAN anda. Bukan suatu keterpaksaan.

# Perlukah Sekolah lagi?
Kayaknya untuk yang ini jawabannya udah jelas. Dosen dituntut untuk selalu mengupgrade dirinya agar bisa kompeten. Karena salah satu tugas dosen adalah menjadi peneliti, maka dia harus punya kecakapan untuk bisa menjadi peneliti mandiri. Gelar Ph.D atau Doktor memberikan gambaran bahwa sang penyandang adalah seseorang yg berkompeten untuk melakukan penelitian secara mandiri.

Selain itu dosen seharusnya selalu mengupdate kemampuannya agar tidak kuper. Karenanya dosen harus selalu haus untuk selalu belajar dari manapun - bahkan dari mahasiswanya. Saya jadi inget petuah kakak saya yg udah lama bekerja di Industri "Boed, kalo loe mo jadi dosen; jangan jadi dosen yg kuper. Jangan cuman ajarin mahasiswa kamu ilmu yang udah basi - kasian mereka". Atau saya juga inget apa yg disampaikan oleh pak Bagyo (Kaprodi TI UGM): "jangan sampai dosen menyampaikan suatu materi  kuliah ‘A’ ke mahasiswa HANYA dengan alasan karena dulu materi ‘A’ itu yang diajarkan ke sang dosen waktu dia kuliah".

Asah kapak… asah kapak.

# Dosen = pinter di akademik
Well, ini adalah syarat perlu tapi bukan syarat cukup. Orang yang pinter di akademik belum tentu cocok jadi dosen, tapi untuk jadi dosen perlu modal itu.
He he .. agak ruwet ya?

Di samping harus jago di bidang akademik [oke deh IP=3,banyak gitu; cum laude juga boleh, dst], menurut saya dosen kok harus jago di bidang soft skill.

Wah apa pula itu soft skills?
Kira-kira sih artinya kemampuan untuk berinteraksi dengan manusia lain. Ya sesama dosen, mahasiswa, kolega di industri, dll. Jadi yg dituntut untuk jago soft-skill tidak hanya mahasiswa lho.

# Dosen = serem
Wah kalo ini saya gak tahu deh. Tapi apa ya masih jamannya dosen itu harus serem? Kalo serem so what gitu lho? Mahasiswa jadi gak berani mengungkapkan pendapat, tak ada diskusi, sepi, ngatuk, boring.

Tapi kalo emang sudah gawan bayi / inherent ya mo gimana lagi lah. Harap maklum.

# Dosen = sumber ilmu pengetahuan
Kemunginan besar tidak deh. Dosen juga manusia. Bukan ‘dewa’ ilmu pengetahuan - serba tahu. So semestinya dosen mengakui bahwa sekali-sekali tidak tahu ya gak masalah. Tapi kalo sering-sering ya jangan.

Paradigma baru pembelajaran adalah SCL - student-centered-learning. Kurang lebih artinya adalah bahwa mahasiswa harus diberi kesempatan  untuk bisa belajar sesuai gaya  belajarnya  sendiri. Ada deduktif, ada induktif. Ada yg jago belajar secara abstrak - pinter banget nurunin rumus yg  pake  integral lipat  lima; ada yg pinternya belajar dengan  intuisi dan  studi kasus; ada pula yang lihainya belajar dengan  mempraktekkan. Dosen ya bertindak sebagai fasilitator bukan dewa ilmu pengetahuan.

Intinya, learn smart, play hard. Contohnya ya ini: Bridge


Bridge design challenge

Ti_legame



LeGame ~ Designers’ catalyst

Lagian, sumber informasi dan pengetahuan sekarang sangat banyak. Perpustakaan, koran, wikipedia [tapi hati-hati kao pakai], friendster, blogs,  open courseware-nya MIT ; youtube, dll. Apa ya mungkin dosen menyerap semua info itu trus disampaikan ke mahasiswa? Dosen malah akan jadi bottleneck jika semua info dipaksa melalui single portal: dosen.

# Modal dosen?
Honesty, passion, determination, self motivation

# Indikator keberhasilan dosen?

Apakah itu indikator kesukesan seorang dosen?
- jabatan profesor?
- publikasi ratusan?
- dana penelitian besar?
- grup riset yg solid?
- menjadi world-level expert?

Ya, semua itu bisa jadi indikator. Tapi ada satu hal jgn dilupakan.
Saya kok senang mengambil konsep "transformational leadership"-nya rekan-rekan di manajemen untuk mengukur indikator keberhasilan seorang dosen.

Menurut transformational leadership, seorang  pemimpin dianggap sukses  jika  dia  bisa  mencetak  pemimpin-pemimpin baru yang lebih  canggih dari pada dirinya. Dan ternyata IEers, konsep transformational leadership itu mirip banget ama falsafah pengajarannya Ki Hajar Dewantara: Tut Wuri Handayani.

Diadopsi untuk kasus dosen:
Seorang dosen dianggap sukses jika dia bisa mencetak lulusan-lulusan yang lebih baik dari pada sang dosen - meskipun sang lulusan tidak harus jadi dosen.

Saya kadang berangan-angan dan berharap, 15-20 tahun lagi saya akan bisa memetik buah sebagai dosen. Melihat mahasiswa-mahasiswa saya menjadi orang yang berguna [apapun profesi dan perannya], bangga sebagai enjineer, berintegritas tinggi, menjadi pioner bagi perubahan negeri ini. Ujung tombak perbaikan. Saat itulah kami sebagai gurunya bisa berkata: "tak sia-sia lah kami". 

Tugas yang berat bukan??

So, IE-ers,
Bagaimana dengan anda?

Ahh cuman kurang di koma aja …

October 25th, 2007 by budih

Hi all,
Saya barusan dapet cerita dari seorang temen yg bekerja sebagai engineers di negeri Singa ini. Ceritanya menarik.

Tapi sebelumnya, kita flash back dulu sebentar…
Masih inget [ato mungkin juga sekarang masih] pas jamannya kuliah?
Anda mengerjakan soal UAS matematika ato ekonomi teknik? Soalnya agak susyah tapi anda yakin udah sukses mengerjakan soalnya. Yakin deh, minimal nilai 90 di tangan. Saat hari pengumuman nilai ditempel … e, ternyata anda dapet 75.
Terang aja anda nggak puas, menghadaplah ke dosen untuk menanyakan. Kayaknya yakin banget deh kalo aku bisa ngerjain. Kenapa nilainya cuman 75?

Why? why?
Ternyata dari penjelasan sang dosen, didapet jawabannya. Anda salah memberi tanda koma di jawaban anda. Yang seharusnya 34,567; anda tulis 345,67. Semua itungan betul lho, cuman salah di nulis koma :( so sad …

Ahh cuman kurang di koma aja …

Sekarang kita coba liat cerita temen saya yg engineer di kota Singa ini. Kebetulan dia sedang ditugasi perusahaannya untuk mengerjakan proyek.  Proyek apaan? gak penting deh. Yang penting  jenis proyeknya adalah  unit price bukan fixed firm cost (lump sum). [Tentunya saya gak perlu njelasin apa bedanya UP atau FFP, anak IE pasti tau deh]. Karena unit price, maka perusahaan akan dibayar berdasar klaim pekerjaan aktual yang dilaksanakan. Misal: melakukan pekerjaan painting. Unit pricenya: $10/ m^2. Kalo pekerjaannya sebanyak 100 m^2 brarti perusahannya akan mengklaim sebesar $1,000 ke klien.

Secara dari singkatnya gitu [halah],  teman saya ini diminta membuat laporan yg akan dijadikan landasan klaim ke klien. Ternyata, karena hitungannya pake excel,  ada rumus hitungan yg salah. Ya kira-kira mirip ama kejadian ujian mahasiswa di cerita sebelumnnya. Trivial mistakes !!!

Kalo di cerita ttg mahasiswa, konsekuensi kesalahan adalah nilai yg gak optimal. Gimana dengan trivial mistakes yg terjadi  di  dunia  kerja?
Ini gambarannya: karena salah rumus, pekerjaan sebanyak 1000 unit tidak terklaim. Satu unit kerja setara dengan $50. Jadi, total nilai yg tak terklaim= $50,000.  Dengan kurs  1$=Rp 6000; nilainya kira-kira sebesar RP 300  Juta !

Banyak cerita sejenis ini yg pernah saya dengar dari rekans praktisi. Mungkin anda pernah dengar/baca/ liat di Discovery Channel:

sebuah misi ruang angkasa bernilai milyaran dollar gagal karena ….



engineers nya lupa menyamakan satuan. Yup, sebagian data pake satuan SI sebagian yg lain pake satuan British. Keduanya langsung digabung saat dilakukan perhitungan. Lupa mengubah satuan !!! [sound familiar in your engineering course exams?]

Jadi, please deh
The devil is in detail

(C) b oe d

Belahan Jiwa

September 9th, 2007 by budih


begin
set
    physical distance = |SIN-JOG|
    actual distance = |NIL|

end

Membaca lagi surat-suratmu
Hatiku jatuh rindu
Tak sadar pada langit kamarku
Kulukis kau di situ
Waktu yang berlalu
dan jarak masih saja terentang
Penamu bicara …

Menembus ruang menyapa sukmaku
Mendesak lembut angin membawa
Butiran hati lara
Ternyata meraih kesempatan
Tak semudah kusangka

Kau setia menunggu (mu)
Lelaki kecil menantang hidup
Kau sertakan doa …
Seolah mantra menjelma nafasmu

Memendam tanya seg’ra terucap,
Belahan Jiwa apa kabarmu?
Kuharap selalu tetap kau jaga
Tumbuhan cinta yang di ladang kita

Aku jauh di sini menggapai cinta
Hingga suatu saat nanti ku kan kembali
Kan kujemput dikau sang putri
Pada saatnya nanti
Berkereta kencana kubawa pergi
Tuju istana di sana kubertahta

(c) KLa Project
~ Singapore 01:15 am

Ingin menjadi dosen [?] Fakta & Mitos

August 26th, 2007 by budih

On Becoming a Lecturer: Facts and Myths (part I of II)

IE-ers. Setelah anda lulus anda ingin jadi apa?
Bidang kerja IE sebenarnya sangat luas, peluang bekerja anda sangat bervariasi. Sebelum akhirnya anda memilih (ya memilih bukan terpaksa) suatu jalur karier, seperti yang pernah saya sampaikan; pertimbangkan hal berikut:
a. passion
b. competence
c. contribution to the community.

Jika ternyata anda merasa bahwa dari tiga hal tersebut, anda punya "feeling" ingin menjadi seorang dosen - mungkin ada baiknya anda sempatkan membaca tulisan di bawah ini.

Tulisan ini tentunya adalah pendapat pribadi, tidak mencerinkan pendapat suatu institusi. Dan seperti biasa, kita bisa sepakat untuk tidak sepakat. Mari kita lihat satu persatu "mitos" dan "fakta" seputar profesi dosen.

# Dosen = pilihan terakhir
Ini terjadi jika anda sudah melamar ke sana ke mari di berbagai perusahaan, pemda dan sejenisnya dan belum beruntung. Akhirnya, sebagai pilihan terakhir anda TERPAKSA melamar menjadi dosen dan diterima.

Saya sungguh prihatin jika anda nanti mengalami hal seperti ini. Bekerja apapun itu, jika terpaksa ya berarti nggak ikhlas. Jika tidak ikhlas anda tidak akan termotivasi. Kerja anda menjadi tidak 100%. You’re wasting your time. 

Karier sebagai dosen, terutama di PT favorit & Jurusan favorit (seperti TI UGM, he he…) sudah sangat kompetitif. Kompetitif sejak dari seleksi masuknya maupun dalam perjalanan kariernya. Anda yang gak ikhlas alias terpaksa tidak akan bisa bertahan dalam dunia yang sangat kompetitif.

# Dosen = santai
Mungkin sebagian dari kita menganggap kerja dosen santai. Dosen ‘kan ngajarnya sedikit SKS. Bisa masuk kerja semau gue jamnya. Abis kuliah ngilang. Nggak ada yg bakal marahin seperti kalau kerja di kantor atau pabrik.

Well, it all depends.
Memang tidak ada yang menegur, tapi kita semua kan tahu, di ATAS sana ada yang memonitor?  Kalau saya melihat bahwa kerja dosen sama dengan kerja di kantoran atau pabrikan. Anda saat masuk pertama kali sudah menandatangani kontrak kerja. Sebesar apapun gaji anda, anda harus menghargai kontrak anda sebagai dosen. Anda gak bisa seenaknya ngilang setelah atau sebelum ngajar, apalagi saat jam kerja, kecuali sedang mengerjakan tugas. Saat anda tanda tangan kontrak, berarti anda sudah terikat janji untuk bekerja dengan profesional.

Perlu diingat pula bahwa tugas dosen ada tiga:
a. edukasi
b. penelitian
c. community services

Jadi, kalo anda bayangkan dosen bisa bersantai saat tidak ada kuliah, ya itu tidak tepat. Kuliah di kelas hanyalah sebagian dari tugas anda. Di bidang edukasi, di samping mengajar di depan kelas, anda juga bertanggung jawab memeriksa ujian, memutakhirkan bahan ajar, membaca buku-buku terbaru, membuat inovasi kegiatan belajar. Mahasiswa anda nantinya kan pasti gak senang kalo dapet kuliah yg isi materinya dibuat 10 tahun yang lalu - outdated. Anda cuman ngajarin apa yg dulu anda dapetkan waktu kuliah. Ilmu IE berkembang sangat pesat. Belum kegiatan lain seperti penelitian yg bisa sangat memakan waktu (dan menguras pikiran), serta pengabdian masyarakat.

Menurut saya, base tempat kerja dosen ya Laboratoriumnya. Jadi, saat tidak sedang mengajar di kelas atau melaksanakan tugas lain; dosen harusnya gampang ditemui di Lab-nya. Seperti halnya pekerja kantoran / pabrikan, dosen semestinya gampang ditemui di ruangannya.

Jadi kalau motivasi anda menjadi dosen adalah supaya bisa banyak waktu luang, well… dengan berat hati saya katakan anda tidak benar.

# Dosen itu gajinya kecil
Persepsi yang sangat biasa muncul terutama di Indonesia. Kalau anda jadi profesor di Malaysia atau Singapura, kasus ini jelas gak ada. Anda tahu berapa gaji seorang profesor di Singapura? SGD 20,000 perbulan. Silahkan anda konversi sendiri ke rupiah.

Oke, lalu bagaimana dengan di Indonesia?
Saya selalu teringat pesan salah satu dosen saya dulu di ITB: "dosen itu memang gaji (salary)-nya rendah, tapi pendapatannya (income)-nya tergantung dari dosen itu sendiri". Trus saya membatin "apalagi kalo kerjanya di PT favorit plus di Jurusan favorit", seperti di … [you know].

Prinsipnya adalah bekerja dengan bersungguh-sungguh, jujur, dan berprestasilah. Rejeki yang memang sudah diatur oleh Allah SWT, Insya Allah akan mengikuti dedikasi, kesungguhan, doa, dan kejujuran anda. Tentunya, hal itu perlu proses.

Sebagai gambaran kasar, dulu si X pernah bekerja di kontraktor Jakarta. Setelah pindah ke luar kota dan memilih (ya MEMILIH, bukan terpaksa) menjadi dosen, berdasar informasi , rejeki si X setelah menjadi dosen tak kalah dibandingkan saat kerja di kontrakor - seringnya lebih besar. :)

So don’t worry rejeki sudah ada yang mengatur.

# Proyek
"Dosen mroyek". Kalimat ini biasanya berimplikasi negatif.
Saya pribadi berpendapat bahwa bekerja sama dengan industri untuk seorang dosen itu boleh - bahkan harus. Bekerja sama dengan industri untuk seorang dosen saya masukkan dalam kategori pengabdian masyarakat. Kalo anda dosen IE, tentunya anda harusnya punya link dengan para profesional di bidang itu juga kan?

Mahasiswa anda tentu lebih bangga kalau tahu ternyata dosennya punya relasi yang luas dan baik dengan dunia industri. Pendapat dosennya menjadi pegangan dunia industri. dll. Dengan relasi yang kuat antara dosen dan industri, lulusan akan lebih mudah diterima kerja. Mahasiswa akan lebih mudah mendapatkan tempat magang, kerja praktek, tempat skripsi, dll.

Kerja sama dengan industri akan membuat dosen jadi gaul - nggak kuper. Bayangkan kalau dosennya aja kuper, gak ngeh kalau di luar sana ternyata -misal- linear programming sudah biasa dipakai di industri dengan menggunakan Excel. Kira-kira mahasiswanya akan seperti apa?

Berikut saya kutipkan pendapat dari salah satu profesor (A/Prof Tang Loon Ching) di NUS mengenai proyek dosen. Beliau menggunakan istilah "konsultasi dan kolaborasi industri".

There is no better way in demonstrating the relevance of course materials than real applications by means of industrial collaborations and/or consulting. More importantly, questions arising from the course of consulting can often be translated to problems worthy of further research. The trio, i.e. research, teaching and consulting, is the corner stone in a knowledge enterprise (emphasis added).

Tentu, tidak sembarang proyek bisa diambil dosen. Jadi sebenarnya apa sih proyek itu buat seorang dosen?
a. Proyek = interaksi ilmu teori dan praktis antara dosen dan mereka yg bekerja di dunia industri.
b. Proyek = network dengan dunia industri
c. proyek = tugas institusi, menambah pendapatan untuk institusi
d. proyek tidak melupakan tugas dosen yg lain

silahkan tinggalkan pesan anda - bersambung …

Negeri di Awan

August 12th, 2007 by budih

Ki_mum_small_1

[dedicated to my most beloved
twin angels]


Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Di masa lalu

Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negri di awan

Di mana kedamaian menjadi istananya

Dan kini tengah kau bawa
Aku menuju ke sana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih

(c) Katon Bagaskara ~ http://youtube.com/watch?v=lAUhV7FeTXI

TI UGM dalam statistik

August 12th, 2007 by budih

Berikut ini adalah gambaran statistik mahasiswa baru yang masuk melalui jalur UM 2007.
Sumber data: Pak Djoko Luk
Pak Djoko menyatakan "nilai rerata mahasiswa baru UGM tidak saya bedakan
IPA & IPC dlsb".

Mari kita telaah satu per satu untuk melihat "positioning" prodi TI UGM di level universitas.

1. Rasio peminat terhadap mahasiswa yg diterima
Peminatvsditerima

Pada data di atas, tidak dibedakan antara peminat pada pilihan#1, #2, dan #3.

Dari data di atas, terlihat bahwa pada level Fakultas Teknik, TI UGM adalah prodi dengan rasio paling tinggi. Artinya, di antara prodi di Teknik, mahasiswa TI UGM 2007 yg melaui jalur UM telah bertarung paling keras - karena tingkat kompetisinya tertinggi di FT.

Kita tidak bisa membandingkan rasio milik prodi di FT dengan prodi di Fakultas lain, seperti di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB). Jika anda bandingkan, rasio prodi FT jauh lebih rendah dari FEB - dan anda tidak bisa membandingkannya.
Mengapa?   
Karena ada jalur IPA-IPS-IPC (lihat pernyataan pak Djoko di atas).
Seperti kita tahu, sebagian CaMa dari ilmu eksakta mengambil jalur IPC - sehingga akan menambah tinggi rasio prodi-prodi non eksakta. Sementara itu, CaMa dari ilmu non-eksakta sangat jarang mengambil jalur IPC. Karenanya, rasio dari prodi-prodi di ilmu eksakta - terutama FT tidak terdongkrak.

Karenanya, misal, rasio prodi TI tidak bisa dibandingkan dengan rasio di prodi manajemen.

2. Nilai Rerata
Jika informasi di poin 1 memiliki kemungkinan bias karena adanya jalur IPC, maka info tentang nilai rerata bisa dikatakan lebih akurat untuk merefleksikan tingkat persaingan antar CaMA.

Berikut adalah pernyataan dari Pak Djoko:
"Saya tayang rasio nilai rerata mhs yang diterima tiap
Prodi thd nilai rerata UGM. Nilai 1 berarti mahasiswa yang diterima pada prodi
tersebut merupakan mahasiswa dengan kemampuan rerata di UGM. Nilai lebih besar 1
berarti mahasiswa yang diterima pada prodi tersebut kemampuannya lebih baik
dibandingkan kebanyakan mahasiswa UGM"

 
Nilairerata

Dari data di atas terlihat bahwa nilai rerata mahasiswa TI UGM tertinggi di FT. Hal ini konsisten dengan analisis pada poin pertama di atas.
Dilihat pada skala universitas, nilai rerata mahasiswa TI UGM berada pada peringkat  ketiga, di bawah pendidikan Kedokteran dan Ilmu Komputer. Rasio rerata mahasiswa 2007 TI adalah 1,38 yang artinya on average, skor mahasiswa TI 2007 adalah  1,38x skor rata-rata mahasiswa UGM 2007 secara keseluruhan.

Menurut saya, data poin dua ini leih valid digunakan sebagai proxy atau indikator persaingan CaMA karena analisis didasarkan pada nilai rasio CaMA yg benar-benar diterima di sebuah prodi, bukan hanya
CaMa yang berminat (pilihan#1, 2, atau 3).

(c) boed

Tidurlah TIdur Bidadariku

August 4th, 2007 by budih

_ki_08

[miss u my little angel]


Ohh…di kedalaman tidurmu

Kau tersenyum lugu

Hmm…mendekap damai dan tak berdosa

Ku..belai gelombang rambutmu

Menitipkan kasih sayang

Semoga berlimpah ruah bahagia

Kita reguk bersama

Tidurlah tidur bidadari kecilku

Setelah lelah kau bermain

Mimpikan dirimu dalam istana

Menari (lincah dan bernyanyi merdu) penuh suka

Dan kukecup lembut keningmu

Rasa haru luluh jua

Jangan dulu terjaga sampai pagi tiba

Menjemput hari

Tidurlah tidur bintang kesayanganku

Bersinar menerangi sukma


Engkaulah juga yang jadi alasan

Hingga kupacu semangat hidup menyimpan harapan

Kelak satu saat nanti kau beranjak dewasa

Pilihlah jalan lurus nan murni tempatmu melangkah

Menuju cita mengenggam asa

Kau tentukan warna tuk hidupmu

Sejak dari mula lebih baik kau jaga langkah

Berbekal waspada

(c) By Katon Bagaskara

http://youtube.com/watch?v=1-Zg64vXW4g

The Young Engineer’s Dilemma

August 2nd, 2007 by budih

Bayangkan seandainya anda pada posisi ini, what ‘r u gonna do? Kasus ini pernah menjadi ‘hot topic dan hot debate‘ di salah satu sesi diskusi di perkuliahan manajemen proyek di Teknik Industri / Teknik Mesin - UGM yang kebetulan saya ampu.

—-
Anda adalah seorang project manager, bekerja pada sebuah perusahaan konstruksi. Anda faham betul bahwa hidup mati dari sebuah perusahaan konstruksi tergantung dari proyek. Perusahaan hidup dari satu proyek ke proyek yang lain. No project no cash inflow.

Suatu saat perusahaan anda sedang berada dalam kondisi krisis. Sekian lama sudah tak mendapatkan proyek yang signifikan - cash flow perusahaan terganggu. Nasib 250 karyawan di perusahaan anda di ujung tanduk. [n.b. berarti 250x4 = 1000 orang bernasib tak jelas ]. Tanpa proyek baru, kemungkinan terjadi lay-off besar-besaran.

Kebetulan anda sebagai seorang project manager sedang menangani proposal  proyek besar. Jika anda berhasil mendapatkan kontrak, at least untuk 5 tahun ke depan cash flow perusahaan anda aman. No PHK.

Pagi itu, hp anda berdering. Ternyata calon klien anda menelpun. Setelah basa-basi ke sana kemari, sang calon klien bicara:

"Let me put it this way.Loud & clear. I know your company badly needs this project. That’s why  I will  give the project to you -not to the competitors. I consider and respect our long-term relationships so far.

All  I  need  is  a 5% kick-back from your project. Off course, it won’t be formally recorded on the contract. If u agree, I’ll sign the contract right now. You give me  the  5%  by next month. Direct transfer to my bank account in Cayman Island. Or else - I’ll find another company which will be more than happy to give me 7%"

So what r u gonna do?
a. terima kontrak, selamatkan 1000 orang tapi menentang hati nurani
b. tak terima kontrak, proyek jatuh ke kompetitor, perusahaan bangkrut - 1000 orang tak jelas nasibnya?
c. or ???

–boed